BAB 01

01 - Kisah Mitologi Odyssey: Perjalanan Pulang Sang Pahlawan Perang Troya

Estimasi Waktu: 45 menit
Level: Hiburan / Refreshing Otak


Prolog: Kejatuhan Troya dan Ide Brilian Kuda Troya

Setelah 10 tahun perang berdarah di depan gerbang kota Troya, pasukan Yunani hampir menyerah. Pahlawan terhebat mereka, Achilles, telah gugur. Moral pasukan runtuh. Di tengah keputusasaan itu, majulah Odysseus (Ulysses), Raja Ithaca yang terkenal dengan kecerdikan dan tipu muslihatnya yang licik.

Odysseus merancang sebuah rencana legendaris: Kuda Kayu Raksasa (Trojan Horse).

                  β”Œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”
                  β”‚    KUDA KAYU TROYA   β”‚
                  β”‚  (Berisi Odysseus &  β”‚
                  β”‚   Prajurit Pilihan)  β”‚
                  β””β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”¬β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”˜
                             β”‚
     Pasukan Yunani Pura-pura Kabur ──► Troya Mengira Menang & Membawa Kuda Masuk
                             β”‚
            Malam Hari: Prajurit Keluar ──► Pintu Gerbang Dibuka ──► Troya Runtuh

Pasukan Yunani membakar kamp mereka dan berlayar menjauh dari pantai, berpura-pura menyerah dan meninggalkan patung kuda kayu raksasa sebagai persembahan untuk Dewi Athena. Orang-orang Troya, mengira perang telah usai, bersorak gembira dan menyeret kuda raksasa itu masuk ke dalam benteng kota mereka untuk merayakannya dengan pesta pora.

Saat malam tiba dan seluruh kota Troya tertidur lelap dalam pengaruh alkohol, Odysseus dan prajurit pilihan yang bersembunyi di dalam perut kuda kayu merayap keluar. Mereka membunuh para penjaga, membuka gerbang utama kota, dan memberi sinyal obor kepada armada Yunani yang diam-diam telah kembali ke pantai. Malam itu, kota Troya yang megah runtuh dalam kobaran api dan pertumpahan darah. Perang berakhir.

Namun bagi Odysseus, perang baru saja dimulai. Perjalanan pulangnya ke Ithaca yang seharusnya memakan waktu beberapa minggu, berubah menjadi kutukan pengembaraan selama 10 tahun akibat murka para dewa.


Bagian 1: Teror Cicones dan Bunga Candu Lotus Eaters

Setelah menjarah Troya, armada Odysseus yang terdiri dari 12 kapal berlayar pulang. Pemberhentian pertama mereka adalah Ismarus, kota bangsa Cicones. Serakah akan jarahan, anak buah Odysseus menjarah kota itu dan menolak untuk segera pergi. Bangsa Cicones menyerang balik dengan bala bantuan, menewaskan puluhan prajurit Odysseus sebelum kapal-kapal mereka berhasil melarikan diri ke laut lepas.

Badai dahsyat yang dikirim oleh Zeus kemudian meniup kapal-kapal mereka jauh ke selatan, hingga tiba di tanah Lotus Eaters (Pemakan Bunga Teratai).

Di pulau ini, penduduk setempat menawarkan bunga teratai ajaib kepada prajurit Odysseus. Siapa pun yang memakan bunga ini akan langsung kehilangan ingatan akan rumah mereka, melupakan keluarga, dan hanya ingin tinggal di pulau itu selamanya untuk terus memakan bunga candu tersebut. Odysseus terpaksa menyeret anak buahnya yang menangis ke kapal, mengikat mereka di bawah kursi dayung, dan segera berlayar pergi.


Bagian 2: Taktik β€œBukan Siapa-siapa” Melawan Siklop Polyphemus

Armada mereka kemudian mendarat di pulau subur yang dihuni oleh para Cyclops (Siklop) β€” raksasa bermata satu yang liar dan tidak mengenal hukum.

Didorong rasa ingin tahu, Odysseus membawa 12 prajurit terbaiknya masuk ke dalam sebuah gua raksasa yang dipenuhi keju dan daging domba. Pemilik gua itu adalah Polyphemus, putra Poseidon (Dewa Penguasa Laut).

Saat Polyphemus kembali, ia menutup pintu gua dengan batu raksasa yang tak bisa digeser manusia. Menemukan para penyusup, tanpa ampun raksasa itu meraih dua anak buah Odysseus, membenturkan kepala mereka ke batu hingga pecah, dan memakannya bulat-bulat. Dua orang lagi dimakan keesokan paginya.

Odysseus tahu ia tidak bisa membunuh raksasa itu saat tidur, karena mereka tidak akan bisa menggeser batu penutup gua. Ia pun memutar otak.

  1. Odysseus menawarkan anggur keras berkali-kali hingga Polyphemus mabuk berat.
  2. Polyphemus bertanya siapa nama Odysseus. Dengan licik, Odysseus menjawab: β€œNama saya adalah Bukan Siapa-siapa (Outis/Nobody).”
  3. Saat raksasa itu pingsan karena mabuk, Odysseus dan anak buahnya meruncingkan sebatang kayu zaitun besar, membakarnya, dan menghujamkannya tepat ke mata tunggal Polyphemus hingga buta.
       Polyphemus Berteriak: "Tolong! 'Bukan Siapa-siapa' mencoba membunuhku!"
                                        β”‚
                                        β–Ό
             Cyclops Lain Mengira Dia Gila/Sehat, Lalu Pergi Meninggalkannya

Pagi harinya, untuk mengeluarkan dombanya, Polyphemus menggeser batu pintu dan meraba punggung setiap domba yang keluar agar para manusia tidak kabur. Odysseus dan anak buahnya berhasil lolos dengan bergelantungan di bawah perut domba-domba berbulu tebal tersebut.

Namun, saat kapalnya mulai menjauh, kesombongan menguasai Odysseus. Ia berteriak mengejek: β€œJika ada yang bertanya siapa yang membutakanmu, katakan itu adalah Odysseus, Raja Ithaca!” Polyphemus yang murka melemparkan bongkahan batu besar ke arah kapal, hampir menenggelamkan mereka, lalu berdoa kepada ayahnya, Poseidon, agar mengutuk pengembaraan Odysseus sehingga ia kehilangan seluruh anak buahnya dan mendapati rumahnya hancur saat kembali.


Bagian 3: Kantong Angin Aeolus dan Kanibal Laestrygonians

Mereka tiba di pulau terapung Aeolia, tempat tinggal Aeolus, Dewa Penjaga Angin. Aeolus yang ramah membantu Odysseus dengan mengurung semua angin badai yang merusak ke dalam sebuah kantong kulit sapi yang diikat erat, dan hanya menyisakan Angin Barat yang lembut untuk meniup kapal mereka pulang ke Ithaca.

Perjalanan berjalan lancar. Dalam 9 hari, mereka sudah sangat dekat dengan pantai Ithaca, bahkan bisa melihat asap dari perapian rumah-rumah mereka.

Namun, saat Odysseus tertidur lelap karena kelelahan, anak buahnya yang serakah dan curiga menduga kantong kulit sapi itu berisi emas dan perak. Mereka membuka kantong tersebut. Seketika, seluruh angin badai keluar dengan gemuruh dahsyat, menciptakan badai raksasa yang meniup kapal mereka kembali ke Aeolia. Aeolus menolak membantu lagi, meyakini bahwa Odysseus telah dikutuk oleh para dewa.

Putus asa, mereka berlayar dan tiba di Telepylos, pelabuhan bangsa Laestrygonians β€” suku raksasa kanibal. Raksasa-raksasa itu menghujani 11 kapal Yunani yang merapat di pelabuhan dengan batu-batu raksasa dan menusuk para prajurit seperti ikan untuk dimakan. Hanya kapal Odysseus, yang berlabuh di luar teluk tersembunyi, yang berhasil meloloskan diri dari pembantaian mengerikan itu.


Bagian 4: Penyihir Circe dan Ramalan di Dunia Bawah (Underworld)

Satu-satunya kapal yang tersisa mendarat di pulau Aeaea, rumah penyihir cantik Circe.

Saat sekelompok prajurit menjelajahi pulau, Circe mengundang mereka ke rumahnya, memberi mereka makan makanan lezat yang dicampur ramuan sihir, lalu mengubah mereka menjadi babi menggunakan tongkat sihirnya, meskipun pikiran mereka tetap manusia.

    Prajurit Diubah Menjadi Babi ──► Hermes Memberi Odysseus Tanaman Ajaib "Moly"
                                                β”‚
                                                β–Ό
              Odysseus Kebal Sihir ──► Menaklukkan Circe & Membebaskan Teman-temannya

Dewa Hermes menemui Odysseus yang berniat menyelamatkan anak buahnya dan memberinya tanaman herbal suci bernama Moly untuk menangkal sihir Circe. Ketika ramuan Circe tidak mempan pada Odysseus, Odysseus menghunus pedangnya dan memaksa sang penyihir membebaskan anak buahnya. Circe akhirnya tunduk, merawat pasukan Odysseus selama satu tahun, dan memberi tahu bahwa untuk bisa pulang, Odysseus harus turun ke Underworld (Dunia Kawah Kematian) untuk meminta ramalan dari arwah peramal buta Tiresias.

Di Dunia Bawah yang berkabut tebal, Odysseus memberi sesembahan darah hewan untuk berbicara dengan arwah. Tiresias memperingatkan Odysseus tentang murka Poseidon dan melarang keras pasukannya menyentuh ternak suci Dewa Matahari Helios di pulau Thrinacia. Di sana, Odysseus juga menangis saat melihat arwah ibunya yang meninggal karena kesedihan menunggunya pulang, serta arwah Achilles dan Agamemnon yang menceritakan pengkhianatan di tanah Yunani.


Bagian 5: Godaan Nyanyian Siren, Monster Scylla, dan Charybdis

Setelah kembali dari Underworld dan berpamitan dengan Circe, mereka harus melewati wilayah berbahaya:

1. The Sirens (Siren)

Makhluk setengah burung setengah wanita yang menyanyikan lagu yang sangat indah. Setiap pelaut yang mendengarnya akan terhipnotis, menabrakkan karang kapal mereka hingga hancur, dan mati membusuk di pantai mereka.

2. Scylla dan Charybdis

Sebuah selat sempit di mana pelaut harus memilih antara dua monster mengerikan:

Odysseus memilih berlayar lebih dekat ke Scylla untuk menghindari tenggelamnya seluruh kapal di pusaran Charybdis. Dengan air mata berlinang, ia menyaksikan enam prajurit terbaiknya dicakar dan dimakan hidup-hidup oleh Scylla yang menjerit dari atas tebing.


Bagian 6: Kemurkaan Helios dan Tawanan Cinta 7 Tahun Calypso

Mendarat di pulau Thrinacia, pasukan Odysseus terjebak selama sebulan karena angin sakal. Kehabisan makanan dan kelaparan, saat Odysseus tertidur, anak buahnya melanggar sumpah dan menyembelih Sapi Suci milik Dewa Matahari Helios.

Helios murka dan meminta Zeus menghukum mereka. Begitu kapal mereka kembali berlayar, Zeus mengirimkan petir dahsyat yang menghancurkan kapal berkeping-keping. Seluruh anak buah Odysseus tenggelam ke dasar laut. Hanya Odysseus yang selamat dengan berpegangan pada sisa tiang kapal yang hanyut.

Odysseus terdampar di pulau Ogygia, rumah nimfa cantik Calypso. Calypso jatuh cinta pada Odysseus dan menawannya di pulau itu selama 7 tahun. Calypso menjanjikan keabadian dan masa muda selamanya jika Odysseus mau menjadi suaminya. Namun setiap hari, Odysseus duduk di tepi pantai berbatu, memandang ke arah laut lepas sambil menangis merindukan istrinya, Penelope, dan tanah airnya, Ithaca.

Melihat penderitaannya, Dewi Athena memohon kepada Zeus agar melepaskan Odysseus. Zeus mengutus Hermes untuk memerintahkan Calypso membiarkan Odysseus pergi. Dengan berat hati, Calypso membantu Odysseus membangun sebuah rakit kayu kecil.


Bagian 7: Kembali ke Ithaca dan Pembantaian para Pelamar Penelope

Setelah badai lain yang dikirim oleh Poseidon menghancurkan rakitnya, Odysseus dibantu oleh bangsa Phaeacia yang ramah. Setelah mendengar kisah pengembaraannya yang luar biasa, Raja Phaeacia memberi Odysseus kapal yang sarat dengan harta karun untuk mengantarnya pulang ke Ithaca. Setelah 20 tahun pergi, sang raja akhirnya mendarat di tanah airnya saat tidur.

Di Ithaca, situasi sangat kacau. Mengira Odysseus telah mati, lebih dari 100 pelamar (suitors) bangsawan yang kasar menduduki istana Odysseus. Mereka memakan ternaknya, meminum anggurnya, memaksa istri Odysseus, Penelope, untuk memilih salah satu dari mereka menjadi suami baru, serta berencana membunuh putra Odysseus, Telemachus.

Dewi Athena menyamar sebagai pengemis tua untuk melindungi Odysseus. Odysseus menyusup ke istananya sendiri untuk mengamati siapa saja pelayan yang masih setia.

Sayembara Busur Panah Odysseus:

Penelope yang terdesak akhirnya mengumumkan sayembara: ia akan menikahi pria yang sanggup menekuk busur panah kuno milik Odysseus dan menembakkan anak panah menembus lubang 12 kapak besi yang berjajar rapi.

   Para Pelamar Mencoba Menekuk Busur ──► Semuanya Gagal Karena Terlalu Lemah
                                                β”‚
                                                β–Ό
     Pengemis Tua (Odysseus) Meminta Giliran ──► Berhasil Menekuk Dengan Mudah
                                                β”‚
                                                β–Ό
     Menembak Akurat Melalui 12 Kapak ──► Kembali ke Wujud Asli Raja Ithaca!

Seketika, Odysseus mengunci semua pintu aula istana dengan bantuan Telemachus dan dua gembala setianya. Pengemis tua itu berubah kembali menjadi Odysseus sang pahlawan perang yang perkasa.

Tanpa ampun, Odysseus membantai seluruh pelamar satu per satu menggunakan panah dan pedangnya, membersihkan istananya dari para parasit yang tidak menghormati rumahnya.


Epilog: Ujian Tempat Tidur dan Kedamaian yang Kembali

Penelope, yang sangat berhati-hati setelah bertahun-tahun ditipu, tidak langsung mempercayai bahwa pria itu adalah suaminya. Ia menguji Odysseus dengan meminta pelayan memindahkan tempat tidur mereka yang megah ke luar kamar.

Odysseus langsung protes, menjelaskan detail yang hanya diketahui oleh mereka berdua: tempat tidur itu tidak mungkin dipindahkan karena salah satu tiangnya adalah pohon zaitun hidup yang tumbuh dari tanah, yang dipahat sendiri oleh Odysseus saat membangun istana mereka.

Penelope menangis bahagia, memeluk suaminya erat. Badai pengembaraan telah usai. Sang pengembara legendaris akhirnya pulang ke rumahnya, Ithaca, untuk kembali memerintah sebagai raja yang damai bersama keluarganya.


Latihan / Pertanyaan Santai

  1. Dari semua monster dan rintangan yang dihadapi Odysseus (Lotus Eaters, Cyclops, Circe, Sirens, Scylla, Calypso), manakah yang menurut Anda paling menakutkan dan manakah yang paling menggoda?
  2. Bagaimana taktik β€œBukan Siapa-siapa” menunjukkan bahwa kecerdasan otak bisa mengalahkan kekuatan fisik raksasa?

Target: Menghibur diri dengan kisah kepahlawanan Yunani kuno dan menyegarkan pikiran setelah mempelajari materi teknis.